BRIN : Pengembangan Produk Bambu
![]() |
Peneliti BIOMATERIAL, Periset senior dari PRBB BRIN, Prof. Dr. Wahyu Dwianto, M. Agr. |
Periset senior dari PRBB BRIN, Prof. Dr. Wahyu Dwianto, M. Agr. menjelaskan perlunya strategi dalam pengembangan dan pemanfaatan bambu sebagai bahan baku produk. Dari hasil penelitian terdapat 176 jenis bambu yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia atau 11% dari seluruh jenis bambu di dunia. Sayangnya, baru sebagian yang dimanfaatkan oleh masyarakat.
Bambu sangat bermanfaat untuk lingkungan seperti meningkatkan volume air, mencegah erosi, penyerapan emisi, memproduksi oksigen serta potensi pariwisata. Bambu juga bermanfaat untuk meningkatkan perekonomian masyarakat karena dapat diolah menjadi berbagai produk seperti makanan, kerajinan, konstruksi bangunan, produk rumah tangga, dan lain-lain.
“Bambu mulai dari akarnya hingga daun bisa dimanfaatkan, namun hal tersebut membutuhkan proses kimia dan sentuhan teknologi,” terang Wahyu dalam acara Bambooland Walk & Talk 2023 yang disiarkan secara daring pada Sabtu (21/10/2023). Kegiatan ini diselenggarakan oleh Bambooland Indonesia dan Ikatan Arsitek Indonesia (IAI).
Wahyu menjelaskan bahwa setiap bambu memiliki manfaat berbeda. Karena itu, strategi pemanfaatan diperlukan untuk mengetahui jenis bambu yang cocok sehingga penggunaannya bisa optimal. Misalnya, jenis bambu yang tidak bisa untuk bahan bangunan tidak boleh dipaksakan untuk kontruksi bangunan.
Dengan sentuhan desain dan teknologi, bambu juga dapat dijadikan produk seni yang memiliki nilai jual tinggi. Wahyu mencontohkan usaha mikro binaan BRIN di Banyumas, Jawa Tengah yang membuat sangkar burung yang bisa dihias dengan teknik ukir bakar. Selain itu, ada ada perusahaan rintisan di Jawa Barat yang memproduksi tumbler bambu yang bisa digrafir permukaannya.
“Jadi dari bahan baku yang murah jika ada sentuhan desain atau teknologi akan jadi barang yang mahal,” tuturnya.
Menurut Wahyu, untuk mendukung kemajuan dan pengembangan bambu di Indonesia diperlukan suatu arah dan kerangka kerja dalam platform yang terintegrasi lintas sektor hulu, tengah, dan hilir. Adanya Dokumen Strategi Nasional diharapkan menjadi arahan bersama dalam mensinergikan program-program pemerintah, lembaga, universitas, lembaga swadaya masyarakat, dan sektor swasta dalam mendukung pemanfaatan bambu modern dengan nilai tambah serta nilai jasa lingkungan.
Rekayasa Bambu Laminasi
Selain bisa dimanfaatkan dalam bentuk bulat, bambu juga bisa direkayasa menjadi seperti papan dengan teknologi bambu laminasi yang saat ini sedang dikembangkan oleh BRIN. Bambu Laminasi merupakan material bambu yang mengalami pemrosesan sehingga bentuk dan ketahanannya dapat menyerupai kayu untuk dijadikan alternatif bahan bangunan.
Pada Bambooland Walk & Talk 2023, Periset PRBB BRIN, Teguh Darmawan, MSi menyampaikan bahwa ketersediaan bambu di Indonesia melimpah. Data Badan Pusat Statistik tahun 2018 menyebutkan ketersediaan hasil hutan non kayu terbanyak mencapai 20,3 juta batang.
“Potensi ini perlu dioptimalkan dan dimanfaatkan untuk mensubsitusi ketersediaan bahan baku kayu yang cenderung menipis secara kualitas maupun kuantitasnya,” terang Teguh.
Bambu memiliki umur panen yang relatif singkat sekitar 3-5 tahun, dibandingkan kayu yang membutuhkan umur berpuluh-puluh tahun baru bisa dipanen. Selain harganya murah, proses pengerjaan bambu juga relatif mudah.
Teguh menjelaskan, salah satu pemanfaatan bambu dibuat laminasi. Pada umumnya laminasi ini dibuat dari bilah bambu yang diratakan, dibentuk penampangnya menjadi segi empat. Hal ini menimbulkan permasalahan karena bambu yang bentuknya bulat kemudian dibuat datar sehingga banyak yang terbuang.
“Bagian dalam dan luar bambu dikikis untuk mendapatkan bentuk yang pipih atau bentuk rata, kemudian disusun-susun menggunakan perekat dan dipres sehingga mendapatkan balok yang pejal sehingga bisa digunakan sebagai bahan konstruksi,” terangnya.
![]() |
Laminasi Bambu: Teguh Darmawan, M.Si |
Menurut Teguh, untuk pembuatan bilah berpenampang persegi, ketebalan bambu yang efektif lebih dari 1 cm. Karena itu kita membutuhkan diameter bambu yang besar dan tebal untuk mendapatkan bilah yang diinginkan.
“Di lain pihak, bambu berbeda dengan kayu karena memiliki karakteristik distribusi kerapatan yang tidak homogen. Pada bagian dalam bambu kerapatannya sangat rendah dan memiliki kerapatan tinggi di bagian dekat kulit,” tutur Teguh.
Sementara untuk membuat bilah yang datar harus memotong atau membuang bagian bambu yang memiliki kerapatan tinggi. “Apabila kita membuat bilah bambu yang masih mempertahankan kelengkunganannya, paling tidak akan lebih efisien dan diharapkan kekuatannya tetap terjaga,” imbuhnya.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan Prof. Wahyu Dwianto, kerapatan bambu bagian dalam sangat rendah, sementara di dekat bagian kulit kerapatannya tinggi. Bambu bagian bawah juga berbeda kerapatannya dengan bambu bagian atas.
Karena itu, pihaknya melakukan penelitian balok laminasi dengan tetap mempertahankan bentuk kelengkungan bambu. Balok bambu dengan penampang melengkung lebih efisien dan memiliki sifat mekanik yang lebih baik dibandingkan balok laminasi dari bilah persegi.
“Sebagai solusi, kami menawarkan untuk meratakan atau menyeragamkan bilah-bilah bambu itu dengan proses pemadatan. Hanya saja, pemadatan ini memiliki keterbatasan yaitu bambu yang sudah dimampatkan bisa kembali ke ketebalan sebelumnya,” terang Teguh.
Karena itu, diperlukan treatment agar bambu yang telah berhasil dimampatkan tidak kembali ke ketebalan semula jika terkena kelembaban, air atau cuaca. Salah satunya, dengan perlakuan panas menggunakan uap sekitar 160 derajat selama 60 menit kemudian direkatkan menggunakan perekat epoxy.
“Penelitian yang kami lakukan berhasil mendapatkan bilah bambu kompresi mencapai fiksasi pada suhu 160 derajat selama 60 menit dan menggunakan perekat epoxy sebanyak 120 gram/m2. Itu memenuhi standar yang telah ditentukan. Kekuatan gesernya lebih dari 5,4 MPa dan tidak terjadi delaminasi baik dalam perendaman dan perebusan,” ungkap Teguh.
Melalui rekayasa bambu laminasi dari bilah bambu berpenampang lengkung yang terpadatkan menjadi papan ini bisa dimanfaatkan sebagai bahan kontruksi untuk mensubsitusi ketersediaan bahan baku kayu yang cenderung menipis secara kualitas maupun kuantitasnya.
Source: https://technologyindonesia.id/pertanian-dan-pangan/perkebunan/tingkatkan-nilai-ekonomi-bambu-brin-kembangkan-teknologi-laminasi/
Posting Komentar untuk " BRIN : Pengembangan Produk Bambu"