Catatan Penggunaan Rebung Bambu Sejak Jaman Nenek Moyang
Rebung adalah tunas atau anakan yang masih muda yang tumbuh dari akar bambu. Penduduk Indonesia maupun Asia umumnya memanfaatkan rebung bambu sebagai bahan makanan.
Penggunaan rebung sebagai bahan pangan di Indonesia sudah berlangsung sejak zaman prasejarah. Berdasarkan kajian arkeologi dan etnobotani, manusia di Nusantara telah mengonsumsi rebung sejak Zaman Neolitikum (sekitar 3000–2000 SM), ketika masyarakat mulai mengenal bercocok tanam dan mengembangkan pola hidup yang lebih menetap.
Bukti Arkeologis dan Sejarah Awal
Situs Arkeologi di Indonesia
Penelitian di situs-situs prasejarah seperti Gunung Kidul, Jawa Tengah, dan Gua Harimau, Sumatera Selatan, menunjukkan bahwa masyarakat telah memanfaatkan tanaman liar termasuk bambu sebagai sumber pangan sejak ribuan tahun lalu.
Residu makanan yang ditemukan dalam tembikar kuno menunjukkan adanya jejak tumbuhan seperti bambu, yang mengindikasikan pemanfaatan rebung.
Catatan dalam Naskah Kuno
Dalam naskah kuno Serat Centhini (ditulis pada abad ke-18), rebung disebutkan sebagai bahan makanan yang digunakan dalam berbagai masakan tradisional.
Catatan Tiongkok dari Dinasti Tang (abad ke-7) juga menyebutkan bahwa masyarakat di Kepulauan Nusantara mengonsumsi rebung dalam berbagai sajian.
Pengaruh Budaya dan Perdagangan
Seiring berkembangnya kerajaan-kerajaan maritim seperti Sriwijaya (abad ke-7 M) dan Majapahit (abad ke-13 M), penggunaan rebung semakin umum dalam kuliner kerajaan dan masyarakat.
Pengaruh budaya dari Tiongkok dan India juga memperkaya cara pengolahan rebung, terutama dalam hidangan berkuah dan fermentasi.
Rebung bambu termasuk salah satu sayuran yang disukai banyak orang karena teksturnya yang renyah dan rasa manis serta aroma khas yang dimilikinya.
Di Era Kini ...
Di Kabupaten Rejang Lebong, Provinsi Bengkulu, bambu muda diolah menjadi Lemea yaitu jenis makanan Lemea berasal dari tumbuhan tunas rebung yang dicincang kecil-kecil lalu di endap (fermentasi) dengan udang atau ikan.
Rebung bambu digunakan sebagai isi lumpia, makanan khas Semarang; rebung juga sering digunakan sebagai bahan baku masakan khas Jawa Tengah, seperti sayur lodeh. Selain itu, rebung juga diolah menjadi lema.
Saat ini, rebung sudah dapat diolah untuk berbagai macam bahan makanan olahan berbahan dasar rebung seperti tepung rebung yang memiliki kandungan pati tinggi, cuka rebung, keripik rebung, rebung beku, dan asinan rebung.
Di daerah Jawa, rebung kering dikenal dengan nama klingking. Sebelum dimasak, rebung kering ini dicuci bersih dan direbus terlebih dahulu. Rebung ini dimasak dengan santan dan memiliki tekstur renyah yang mirip daging ayam.
Rebung memiliki kandungan karbohidrat, protein, dan dua belas asam amino penting yang sangat diperlukan oleh tubuh. Konsumsi rebung secara teratur diyakini merupakan salah satu tindakan preventif untuk menghambat berbagai jenis penyakit, termasuk kanker.
Mengandung Zat Berbahaya
Semua rebung bambu memiliki kandungan asam sianida (HCN). Rebung bambu dengan tingkat HCN tinggi berbahaya jika dikonsumsi, sebaliknya yang enak dikonsumsi adalah yang tingkat HCN-nya rendah.
Di wilayah tropis, jenis-jenis bambu yang biasa diambil rebungnya untuk makanan adalah yang biasa ditanam di pekarangan atau tumbuh di tepi hutan/sungai, seperti:
- Bambu betung (Dendrocalamus asper)
- Bambu apus/tali (Gigantchloa apus)
- Bambu wulung/hitam (Gigantochloa atroviolacea)
- Bambu ater/jawa (Gigantochloa atter)
- Bambu gombong/surat (Gigantochloa pseudoarundinacea)
- Bambu ampel (Bambusa vulgaris)
- Bambu kuning/gading (Bambusa vulgaris var. striata)
Dari kawasan subtropis dikenal jenis-jenis bambu yang biasa diambil rebungnya, yaitu:
- Madake (Phyllostachys bambusoides)
- Moso (Phyllostachys edulis)
- Bambusa oldhamii
- Bambusa odashimae
- Bambusa blumeana
- Fargesia spathacea
Pemanfaatan rebung sebagai bahan pangan tidak hanya menunjukkan kearifan lokal dalam memanfaatkan sumber daya alam, tetapi juga mencerminkan kekayaan budaya kuliner yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Pemanfaatan Rebung dalam Kuliner Tradisional
Di berbagai daerah di Indonesia, rebung diolah menjadi berbagai masakan khas yang lezat. Misalnya, di Kabupaten Empat Lawang, Sumatera Selatan, masyarakat mengolah rebung melalui proses fermentasi menjadi hidangan yang dikenal sebagai "Gebung Asam". Proses fermentasi ini memberikan cita rasa unik dan telah menjadi bagian dari tradisi kuliner setempat.
Di Jawa Tengah, rebung sering digunakan sebagai isian lumpia, makanan khas Semarang. Selain itu, rebung juga menjadi bahan utama dalam masakan seperti sayur lodeh dan gulai santan. Di Kabupaten Rejang Lebong, Provinsi Bengkulu, rebung diolah menjadi "Lemea", yaitu makanan yang terbuat dari rebung yang dicincang kecil-kecil lalu difermentasi dengan udang atau ikan.
Kandungan Gizi dan Manfaat Kesehatan
Rebung tidak hanya lezat tetapi juga kaya akan nutrisi. Penelitian menunjukkan bahwa rebung mengandung serat pangan dan oligosakarida yang dapat berfungsi sebagai prebiotik, mendukung kesehatan pencernaan.
Selain itu, rebung juga memiliki aktivitas antioksidan yang tinggi, yang bermanfaat dalam menangkal radikal bebas dan mendukung kesehatan secara keseluruhan.
Inovasi Pengolahan Rebung
Seiring perkembangan teknologi pangan, rebung kini diolah menjadi berbagai produk olahan seperti tepung rebung, cuka rebung, keripik rebung, rebung beku, dan asinan rebung. Inovasi ini tidak hanya meningkatkan nilai tambah rebung tetapi juga memperluas jangkauan konsumsinya di masyarakat.
Bahkan, rebung juga masuk dalam dunia kesehatan karena tercatat dalam studi modern bahwa rebung memiliki manfaat kesehatan, memiliki kandungan zat aktif dan berperan dalam penanganan penyakit tidak menular seperti hipertensi.
Posting Komentar untuk "Catatan Penggunaan Rebung Bambu Sejak Jaman Nenek Moyang"